Celengan Kata :

Ketika keisengan menghasilkan sebuah karya, bagaimana mungkin sebuah usaha kecil tidak menghasilkan apa-apa?

Poni dan Sisir!

Selasa, 25 Mei 2010 | Kurniawati Jamaluddin

Tadi di sekolahan, sesuai perkiraan saya tidak terlambat. Huh. Tapi sesuai perkiraan juga, perut saya keroncongaan huwaaaaa.

Pagi ini cuaca agak mendung, mood saya jadi ikutan mendung, ditambah dengan perut yang tak henti-hentinya berdangdutan. Mau makan, tapi malees jalaaan. Tapi untungnya, Ale yang sangat mengerti mengeluarkan sekotak nasi plus tempe kecap lengkap dengan sambal. Dia memang sering bawa bekal. Eh, si Tami ndut datang mau ikutan makan. Youweslah, ndapapa...monggo monggo!

Kami pun makan bertiga setelah sebelumnya Ale minta izin ke ibu Sri (untungnya mood ibu Sri lagi bagus jadi diizinkan deh, fiuh!)


***

Setelah makan, kami kembali ke kelas. Saya eemm Kami kenyang sekarang! Hihihi. Pas lagi asyik nyari jawaban dari tugas LKS, si Tami nyisir-nyisir poni saya dengan excited. Saya sudah mencegah sebelumnya, tapi karena si Tami tetep getol nyisirin poni saya akhirnya saya pasrah aja dah. Eh, gak tau kenapa tiba-tiba tuh sisir udah digulungin aja macam roll rambut, saya agak risih soalnay tuh sisir ngalangin penglihatan sih. Saya pun inisiatif ngebuka gulungan tuh sisir, tapi.....
GAK BISA! oalah -,-

"TAMIIIII...LEPASKI GAAAAAANG" saya berteriak kencang sambil narik rambut Tami dari belakang (Tami duduk di depan saya).

"Ih ka nyantai meko bu'....Sini!" balas Tami lalu menyuruh saya mendekatkan wajah saya ke hadapannya. Huh.

Sudah beberapa menit Tami mencoba melepas sisir itu dari poni saya, tapi tidak bisa. Kulihat dahi Tami mengerut. Saya mulai gelisah.

"We gaaang ih! Nyaaaaaakk huuuuu" gerutuku sambil manyun.

"Ai, ndak bisa ta' lepas" balas Tami santai sambil ngeliatin sisir yang kini bertengger tergulung di poniku, bagus.

"Ih sialak ji ine gaaang, huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"

Teman-temanku yang lain mulai mengerumuni saya, Sari dan Intan mencoba melepas sisir sialan itu dari poni saya T.T tapi susaaah, mereka sempat hopeless kalau sisir itu gak bisa terlepas kecuali kalau PONI SAYA DIPOTONG! HAAAAAAH? GILA AJA! Saya lebih rela, Tami yang dipotong ketimbang poni saya yang dipotong.

Mata saya mulai berkaca-kaca, selain takut ngebayangin kalau-kalau poni saya beneran dipotong saya juga lagi nahan sakit karena si Sari dan Intan berusaha melepas sisir itu dengan cara yang sungguh gak keperiquruwan huhuuuu. TAMI, TANGGUNG JAWAB!

Setelah beberapa menit dengan teriakan-teriakan kecil menahan sakit, akhirnya dengan bantuan Intan dan Sari (sedangkan Tami cuma ngeliatin sambil tertawa jahannam) sisir jahannam itu bisa kelepas dari poni saya yang sekarang bentuknya sungguh tidak karuan ckckck. Fiuh!

Makasih yaaaaa Sari dan Intaaaaaaan, hwah!




















Sekarang saya betul-betul trauma dengan benda bergerigi yang bernama SISIR. Apalagi sama makhluk gendut bernama ASNIAR UTAMI! ckckck

Tags: , | 0 komentar

0 komentar:

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

type='text/javascript'/>