(Mimpi-Mimpi Lintang) Maryamah Karpov
Selasa, 18 Mei 2010 | Kurniawati Jamaluddin

Tidak seperti sebelumnya, saya tidak lagi membaca buku yang harusnya dikonsumsi anak 9 tahun, sekarang saya sedang tertarik dengan buku-buku tebal bernuansa sastra kental yang memancing otak saya untuk berpikir lebih keras, yang memancing naluri sastra anak SMA saya bangkit dengan sempurna HAHAHAHH
Maryamah Karpov. Buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi ini menggelitik sukma, novel yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para pembaca tetralogi Laskar Pelangi. Covernya yang mengilustrasikan seorang wanita bermain biola di tengah hutan (banyak daun kering beterbangan soalnya heheh) yang merajuk pada tokoh anak Mak Cik Maryamah, si Nurmi.
Awalnya pas mau baca buku ini saya sudah terbayang akan mendapati kata-kata cerdas berbau sains dengan pendekatan budaya yang amat apik dari bung Andrea Hirata. Bukan karena sotoi atau sejenisnya tapi karena buku Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi (Edensor saya belum baca T.T) juga menyuguhkan kalimat-kalimat seperti itu, indah dan memiliki kekuatan. Gaya bahasa Andrea Hirata betul-betul khas dan pas, membuat saya sukses terlena dalam alur yang dibuat sedemikian meliuknya. Di buku ini saya merasa belajar Sains, Sastra, Seni, dan Sejarah sekaligus. Sungguh kombinasi yang tak terbayangkan.
Terlepas dari gaya bahasa yang menyihir dan mengalir begitu sempurna, saya mendapat keganjalan pada korelasi judul dan isinya. Setelah membaca kira-kira sampai mozaik ke 35, saya belum menemukan sosok Mak Cik Maryamah yang namanya dijadikan judul tertralogi terakhir ini. Saya sempat heran, sebenarnya Maryamah Karpov ini siapa? Kok gak muncul-muncul yah? Akhirnya saya terus membaca sampai ke Mozaik (saya lupa mozaik ke berapa) dan menemukan nama Maryamah Karpov (akhirnya) disebutkan, saya kira dari mozaik itu nama Maryamah Karpov akan lebih berperan dan menguasai jalan cerita tapi ternyata sampai saya selesai membaca buku yang tebalnya 503 halaman ini, ulasan tentang Maryamah karpov tidaklah lebih dari dua paragraf. Penyebutan namanya saja tidak lebih dari 10 kali, sungguh keanehan yang sempat membuat jidat saya berkerut dua belas lipat. Apa sebenarnya tujuan Bung Andrea menyematkan nama Mak Cik Maryamah Karpov sebagai judul utama tetralogi ini?
Well, hal yang membuat saya tetap ingin membaca novel ini adalah Bahasa Bung Andrea yang begitu memikat. Kemampuan bung Andrea mendiskripsikan hal yang sebagian orang biasa-biasa saja tapi di tangan bung Andrea, hal itu menjadi begitu istimewa dan punya kekuatan. Pengeksplorasian detil-detil setiap aktivitas yang dilakukan Ikal seperti saat membuat perahu, saat mencari A Ling dengan penuh perjuangan, bahkan saat menjelaskan hewan, penjelasan Bung Andrea begitu detil dan mengundang tawa. Belum lagi joke-joke khas yang disajikan membuat teman-teman saya heran melihat saya terkikik-kikik sendirian.
Satu part yang paling saya ingat adalah ketika Lintang datang memberikan solusi saat Ikal merasa putus asa untuk membuat perahu sendiri, ketika Ikal melihat pembuatan perahu itu amatlah sulit dan tidak dapat dijangkau olehnya. Nih, saya suguhkan kutipannya:
"Lihatlah Nurmi main biola," kata Lintang tenang.
"Tahukah kau, Boi? Biola adalah instrumen yang amat susah dimainkan. Pemainnya harus punya feeling yang kuat untuk menemukan nada. Sebab tak ada pedo man posisi nada seperti gitar. Tangan kanan menggesek, jemari kiri menekan dawai, itu tak mudah, karena dua macam gerak mekanika yang berbeda. Jarak dawainya pun amat dekat, maka gampang sekali suaranya distorsi. Jangankan menemukan nada yang pas, menggeseknya dengan benar saja memerlukan latihan lama. Orang yang tak berjiwa musik, tak kan dapat memainkan biola."
Aku menyimak kisah biola ini, tapi belum dapat kulihat hubungan biola Nurmi dengan perahu Mapangi.
"Jika kau ingin belajar main biola dengan memikirkan bagaimana Nurmi bisa membawakan lagu Semalam di Malaysia seindah itu, kau tak kan bisa melakukannya. Bagaimana kau dapat menemukan presisi nada seperti Nurmi? Bagaimana kau dapat menemukan koordinasi gerak mekanikamu? Sehingga muncul vibrasi yang menakjubkan itu? Begitulah caramu melihat perahu Mapangi selama ini."
Mulai menarik. Lintang mengulum senyum khasnya.
"Barangkali akan lebih mudah jika kita berpikir bahwa biola adalah alat musik akustik yang berbunyi karena getaran. tangga nadanya merupakan konsekuensi dari panjang pendek gelombang akibat jemari yang memencet dawai bergerak dalam jarak tertentu ke depan atau belakang stangnya. Dengan melatih terus jemari agar konsisten dengan jarak tertentu itu, begitulah kita akan menemukan nadanya."
Membuat sesuatu yang rumit menjadi begitu sederhana adalah keahlian khusus Lintang yang selalu membuatku iri.
"Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi."
Kutipan di atas betul-betul memberikan pelajaran penting bagi saya, acap kali saya melihat sesuatu dari sudut pandang yang rumit pula sehingga itu menjadi hal yang mustahil! Sungguh pelajaran yang amat berharga!
Dan ya, Terima Kasih bung!
0 komentar:
Posting Komentar