Kau kenapa, saudariku?
Kamis, 06 Mei 2010 | Kurniawati Jamaluddin

6 May 2010 at 11:15am
Kulihat sosok itu dengan seksama.
Wajah Ale terlihat begitu berbeda siang ini.
Betulkah matanya berair?
Betulkah dia menangis?
Sosok yang paling jarang menitikkan air matanya (di depanku) itu kini terlihat begitu rapuh. Ia sesenggukan tak karuan, sesekali menutup wajahnya dengan tangan gemuknya yang mulai berkeringat.
Handphone Ale yang kini tidak bertombol akibat jatuh dari WC tadi malam itu bergetar pelan. Suara Dita terdengar sigap menanyakan Ale kenapa. Saya hanya terdiam sambil mengelus punggung Ale yang juga bergetar.
Kau kenapa, saudariku?
Tangisan Ale terdengar begitu miris, seperti sakit hati yang teramat sangat.
Suara tangisan yang sangat tidak familiar, bukan suara ini yang biasa kudengar, tapi gelakan tawamu, aku tidak menyukai suara ini, sungguh.
Kau kenapa, saudariku?
0 komentar:
Posting Komentar