Perampok!
Kamis, 30 September 2010 | Kurniawati Jamaluddin
Dia datang sudah beberapa bulan yang lalu dan tidak lama kemudian saya berhasil merampok hartanya. Entah mungkin karena dia tidak merasa sedang dirampok atau apa, dia anteng-anteng saja dan membiarkan saya lebih leluasa merampok lebih banyak. Senang sekali rasanya, merampok harta paling berharga yang dia punya. Aha!
Makin ke sini, saya merasa ada yang aneh, saya merasa telah dirampok! Ah! Bukannya saya yang seharusnya merampok? Kenapa jadi seperti ini? Tapi, bukan itu...bukan itu yang mengganjal pikiran saya. Tapi...
saya mulai terbiasa merampok dan dirampok. Entah kenapa merampok hartamu rasanya menyenangkan sekali. Begitu pula sebaliknya, saya senang sekali melihatmu terang-terangan merampok hartaku. Wah, ini sama sekali tak kuduga. Luar biasa menyenangkan.
Meskipun saya sempat tergiur dengan harta orang lain, toh, saya kembali merampokmu juga. Sepertinya hartamu banyak sekali, tak habis dirampok olehku dan waktu. Dan itulah yang membuatku ingin terus merampokmu. Saya ingin lihat seberapa banyak sih harta yang kamu punya? Kok sampai sekarang saya tak melihat akan ada tanda-anda habisnya hartamu itu?
Ya sudahlah, sepertinya hartamu tak akan habis kurampok kecuali bila kau memilih untuk menutup harta itu agar tak terlihat lagi olehku tapi terlihat ke perampok-perampok lain di luar sana.
Tapi tenang saja, bila itu terjadi, saya masih menyimpan baaaaaaaanyak hartamu yang telah lebih dulu kurampok, di hatiku. Dan untung saja kau tak bisa menerawang isi hatiku, karena kalau bisa, kau pasti akan jantungan melihat begitu banyak hartamu yang telah kurampok. Em maksudku, melihat begitu banyak cintamu di dalam sana.
0 komentar:
Posting Komentar