Iking Siahsia tapi Tak Pernah Sia-sia
Sabtu, 11 September 2010 | Kurniawati Jamaluddin

Alamatku begitu lengkap, rumahku di ujung tembok berwana putih, pagar biru. Jika engkau datang tidak usalah bertanya karena teras rumahku di penuhi banyak bunga yang malas aku siram dan jangan pula kamu kirim surat. Kode pos yang pernah aku berikan telah berubah dan sekarang aku tidak ingat yang aku ingat hanya ciumanmu yang terakhir begitu polos dan aku membiru di buatnya.
Bila engkau datang beritahulah sebulan sebelumnya agar persiapanku cepat kuselesaikan sesuai keinginanmu. Aku tahu kamu akan datang setiap saat tapi ingatkan pada isyaratmu jangan isyarat misterius kepada keluargaku dan teman-temanku yah, setidaknya sms-lah agar keliatan lucu. Yang pasti smsmu akan kutulis ulang di diaryku.
Bila engkau mengutus israfil, jangan menyuruh menjemputku di pertigaan jalan karena bisa jadi aku menemui kekasihku yang senang merokok, begadang baiknya setelah sebab ada pembicaraan yang begitu penting soal film pendek dan menulis puisi sepertiku.
Tuhan, trims berat ya...
september, 2007
***
Ini sekeping essai dari seorang film maker yang saya senangi. Namanya Iking Siahsia, saya biasa memanggilnya kak Iking. Seorang yang ceria dan begitu profesional dan oh ya berbeda dari nama lengkapanya, dia sama sekali tidak sia-sia hidup di muka bumi ini, karena dia begitu istimewa. Banyak yang menyayanginya begitu pula sebaliknya.
Entah kenapa saya tiba-tiba ingin memposting salah satu tulisannya di sini, mungkin tertarik atau mungkin juga karena tulisannya selalu bisa membuat saya tersenyum.
Kak Iking, trims berat ya..
0 komentar:
Posting Komentar