Celengan Kata :

Ketika keisengan menghasilkan sebuah karya, bagaimana mungkin sebuah usaha kecil tidak menghasilkan apa-apa?

Ole-Ole dari M Aan Mansyur

Kamis, 30 September 2010 | Kurniawati Jamaluddin


Kubawakan ole-ole untukmu yang tak pernah lelah menanti seseorang membuka dan tersenyum karena melihatmu, blogku. Sebucket sajak indah karya seseorang yang sejak dulu selalu kukagumi dan selalu membuatku bersyukur telah mengenalnya. M Aaan Mansyur.


Doa di Depan Televisi

tuhan, masukkan hidup aku
yang tak putus kau anugerahi
kesedihan ke dalam sinetron
agar makin banyak penonton
ikut menemani aku tertawa.



Senja di Soneta Ini

senja yang pernah merenang-renangkan diri
di sepasang matamu yang batu permata lamur
yang seringkala mengingatkan aku pada bebiji
kelereng masa kecilku yang jatuh ke sumur

senja yang pernah mempertamukan katamu
ke bibirku, tanganmu ke tubuhku, tubuhmu
ke tabahku, telentangmu ke telanjangku
sehingga akhirnya hilangmu ke mataku

senja yang meletakkan sebelah kakiku
di lelangkahmu, sebelah lagi lumpuh
tidak pernah mampu memburumu

senja yang menyimpan separuh dadamu
di jauh masa depan, separuh lagi luruh
jatuh mengair menyuburkan matiku



Jantung Angin

bibir-bibir pasi puisi ini cuma mampu
mengecup jantung angin atau mimpi.
angin yang menggantung di sana-sini itu
tak berisi sesiapa lagi, bersih seperti sepi.

dari dalam kerongkongan puisiku ini
yang bisa menyapa hanya kenangan
dan angan-angan telah luruh seluruh
kata yang bisa membuat angin berkesiuh.

o, jantung angin, jantung angin yang hampa
detakkanlah hampir matiku seperti dulu saat
engkau masih mahir mengubah daun-daun tua
menjadi hutan-hutan hijau yang berbuah lebat!

Membayangkan Kematian Kamu

Jangan, Sayang, jangan mati!
Meski saya akan mati juga nanti.
Kamu pasti akan masuk surga
sementara saya tak yakin bisa sampai di sana.

Kamu mau saya kupaskan buah-buah apel?
Kamu mau saya bacakan beberapa puisi cinta?
Kamu mau saya padamkan bintang-bintang
yang mengganggu mimpi-mimpi kita?
Saya mampu.

Ayo, sayang, bangunlah! Buka mata!
Kamu bisa merasakan saya hidup di dalam kamu.
Cintaku, cintaku yang sangat besar ini
akan selalu cukup menghidupi kita berdua

Kamu mau sehampar laut dengan perahu-perahu berlayar?
Kamu mau mendengar lagu-lagu baru atau lagu-lagu lama?
Kamu mau saya membunuh anjing-anjing tetangga
yang mengganggu mimpi-mimpi kita?
Saya mampu.

Kamu mau lampu itu seperti matahari terbit?
Kamu mau ada gunung di balik kaca jendela?
Kamu mau hujan menangis atau menyanyi?
Untuk kamu semua aku mampu.

Tapi, Sayang, jangan mati!
Atau tiup nafas terakhirmu kuat-kuat
untuk saya hirup, dan kamu bisa melanjutkan hidup
di dalam aku.

Tapi, Sayang, jangan mati!
Jangan mati!
Jangan…

Kepada Hawa

aku merelakanmu menjauh,
merelakanmu terjatuh
ke tempat sampah
bagai sepotong apel merah
yang di geligimu pernah
berdarah

adakah cinta yang jatuh
kepadamu melebihi cintaku?

lelaki yang engkau cintai itu mati
dan tak membawamu ke makamnya
sementara aku bertahan hidup,
bertahun-tahun sanggup tak mati
oleh rindu--dan menanti di surga

Hawa, aku masih ular yang setia
mencintaimu sepanjang usia tuhan.

***

Bukankah ini ole-ole terindah di akhir September ini?
Sebucket Sajak Akhir September untukmu, blog yang tak letih menungguku.

Tags: , | 0 komentar

0 komentar:

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

type='text/javascript'/>