Subhanallah ')
Sabtu, 14 Agustus 2010 | Kurniawati Jamaluddin
Subhanallah. Senang sekali melihat mereka saling berkomunikasi lewat facebook dengan bahasa yang berbeda, latar tempat yang berbeda, dan juga rasa rindu pada orang tua mereka yang juga sudah kuanggap orang tua. Entah kenapa saya terharu melihat mereka saling berbagi kisah, berbagi cerita tentang perjuangan mereka satu sama lain. Melihat mereka berbagi motivasi yang diam-diam juga memotivasi langkahku agar tetap berjuang.
Masih kuingat jelas dulu ketika kita masih setinggi tanaman asoka depan rumahku, kita bermain dengan tawa yang tidak pernah kita jaim-jaimkan. Masih ingat bila hujan turun? Betapa kita bersorak lalu keluar rumah tanpa dituntun. Melihat riak air yang berbentuk mahkota ketika bertemu dengan tanah adalah kesenangan tersendiri bagi kita. Ah, betul-betul masa kecil yang kurindukan. Mandi di selokan depan rumah, berlarian di beceknya sawah, tersesat di gudang, dan beribu kenangan masa kecil yang luar biasa menakjubkan.
Kini, kita berjalan berlainan arah. Namun kau tau? Kita sama-sama berjuang menggapai mimpi yang sejak dulu kita teriakkan. Ah, masihkah kau bercita-cita menjadi seorang bidan? Kurasa tidak, karena kini kau terlihat seperti uztazah yang anggun. Aku mengagumimu, saudariku. Juga mengagumi saudara-saudaramu yang juga berjuang atas nama mimpi yang akhirnya membawa mereka ke dimensi lain negeri kita. Subhanallah.
Saya dan keluarga selalu mendoakan kalian dalam kagum, kuharap kalian juga begitu.
Syamsul Arif Galib I get it because I always dreamed it...!!!
That's what I called: El poder del sueƱo
Teruntuk tetangga terdekatku,
Keluarga Besar Prof. Dr. H. Muh. Galib M.Ag
0 komentar:
Posting Komentar