April di Bulan Desember
Minggu, 01 Desember 2013 | Kurniawati Jamaluddin
Sedang tidak ingin menangis sepagi ini, sedini ini.
sebab tangis untuk kemarahan yang salah arah adalah tindakan gegabah yang tak tahu diri.
tapi duh, sayang...
siapa yang bisa menahan lelehan mata yang terbakar ego?
Harga dirimu atas diriku bukan perkara kata-kata sundal atau kata-kata cinta, sayang.
juga tentu bukan perihal meludahi atau menyuguhi pelukan.
mungkin tentang keterusterangan yang terus-menerus digelapkan
oleh kebohongan-kebohongan kecil yang besar
atas nama: aku cinta kau, sayang...
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAAA-HA!
ya!
kita bisa tertawa sekarang.
bukan tertawa bersama
tapi menertawai masing-masing kita!
Tentang keterusterangan bahwa kita tak bisa mengendalikan diri juga rasa
adalah perkara pelik yang tak pernah bisa kita selesaikan, bahkan hingga sekarang.
untuk itu, sepertinya kita memang harus menyerah
atas nama sisa-sisa cinta yang kita punya
persetan dengan harga diri atau ludah yang kita jilat kembali
Benarkah? Masihkah kau dan aku menjadi tempat kembali untuk kita?
Kita sudah melewati masa-masa di mana gelak tawa menjadi begitu bahak
Kita juga sudah melewati saat-saat di mana derai tangis menjadi begitu pedih
Kita juga sudah melewati jalan-jalan lurus yang datar tanpa kerikil
Dan sekarang, kita saling menertawakan mata masing-masing yang menjadikan pipi kita sebagai anak-anak sungai yang dirundung musim penghujan.
Kita baru saja berhasil melewati itu, dengan sesal.
sesal yang datang secepat kita mengerdipkan mata
adalah hadiah untuk pemilik yang kerap memenangkan ego.
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAAA-HA!
kita memang perlu tertawa sekarang, meski mata terus mengairi pipi.
Satu hal,
Maaf dan terima kasih bukan milik lidah kita.
Semoga kita berbahagia, meski tidak bersama.
0 komentar:
Posting Komentar