Mimpi
Minggu, 24 November 2013 | Kurniawati Jamaluddin
Saya pernah bermimpi buruk seperti nyata, itu menyakitkan. Tapi ternyata, kenyataan yang seperti mimpi buruk jauh lebih menyakitkan.
***
Saat kaumasih hidup, saya pernah bermimpi menghadiri pemakamanmu. Kulihat diriku meratap tersedu-sedu, mataku memerah tak karuan hingga akhirnya saya terbangun dan menemukan mataku berair dengan hati yang sesak. Hanya mimpi; mimpi buruk.
Saat yang lalu, saya menghadiri pemakamanmu bahkan menghafal setiap inci deritamu dipasangi alat yang tak kutahu fungsinya: memperpanjang nafasmu atau hanya mengelabuiku bahwa nafasmu masih ada. Saya tersedu-sedu sambil berulang kali membisikkan kidung Tuhan lalu mencucukkannya di dahimu. Kemudian saya hendak terbangun ketika mendapati bahwa ternyata saya sedang tak tidur. Bukan mimpi; lebih buruk.
Ya, sayang sekali, ini bukan lagi mimpi.
Kau, telah bersama yang kaurindukan: Penciptamu.
***
Mulai sekarang, Tuhan. Kauboleh memberiku mimpi buruk.
Tags: bapak, rindusendu | 0 komentar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar