Kembali
Rabu, 02 Oktober 2013 | Kurniawati Jamaluddin
Sebut saja kita adalah dua orang yang ingkar;
juga pelupa.
Tapi, ah mungkin—
kita tak sepenuhnya ingkar;
juga tak benar-benar menjadi pelupa.
Mungkin lucu, sangat lucu.
Dulu
kita berlalu karena katanya cinta telah habis untuk kita
lalu merasa tangguh dengan komitmen masa lampau bahwa kembali hanyalah untuk mereka; si penjilat ludah
kita berpisah
lalu terus merajut kisah (yang katanya) atas nama paksaan bukan perasaan.
Sekarang
kita memperhatikan seseorang di kaca spion; aku melihat kau dan kau melihat aku.
lalu menertawai diri masing-masing ketika bias memantulkan bayangan dua orang mencuri-curi cumbu
kita adalah si penjilat ludah itu; melalui bibir masing-masing
lalu kita mengarang cerita apa saja, yang terakhir kita beri judul cinta.
Sebut saja kita adalah dua orang yang ingkar:
pada janji masa lampau tentang 'kembali'.
juga pelupa:
bahwa cinta selalu menang atas kita.
Tapi, ah iya!—
kita tak sepenuhnya ingkar:
pada cinta yang ternyata belum habis untuk kita setubuhi.
juga tak benar-benar menjadi pelupa:
bahwa janji masa lampau bukanlah untuk kita yang punya cinta.
***
Masih tentang kita, cinta dan 2017...
Masih ada waktu untuk kembali meski waktu tak pernah berhenti.
0 komentar:
Posting Komentar