Rindu yang Mengelipsis
Sabtu, 23 Februari 2013 | Kurniawati Jamaluddin
Sabtu Malam, di ujung Februari, di ujung Malam, di Ujung Pandang.
Malam lewat setengah, ini sudah cangkir kedua yang kuteguk sambil memangsa cerpen-cerpen yang berhamburan dengan rakus. Saya baru saja khatam membaca tulisan seorang kawan yang masih berembun ketika bermaksud menyampaikan rindu yang lelah hanya menjadi sesak di dada.
Untukmu.
...
......hanya,
Ya seperti biasa.
Terabaikan oleh tetek bengek urusanmu yang selalu kumaklumi meski tak pernah kumafhumi.
...
......tapi,
Rinduku selalu masih.
Jangan tanyakan pada cinta, sayang, suka, kagum, atau -ku yang lain. Karena mereka selalu masih.
Saya harus mengerti.
Harus.
Karena tugasku hanyalah menemanimu mendaki menuju puncak seperti percakapan kita di sore yang lembab lewat ponsel kala itu.
Karena tugasku hanyalah mendengar setiap jengkal keluhmu seperti yang seringkali menjadi dongeng pengantar tidurku waktu itu.
Karena tugasku hanyalah menikmati menghapus setiap titik peluhmu seperti biasa setelah kaumenyantap makanan enak saat itu.
Tapi,
kaumungkin lupa satu hal.
Saya taksedang dinas
Saya hanya sedang mencintaimu
Lalu juga lupa cara mencintai.
Semoga kau, taklupa.
Saya mencintaimu
...
.......hanya,
taksuka dengan caramu mencintaiku.
Sehabis malam ini, kau taklagi perlu mencintaiku.
***
―Tetiba merasa begitu merindukanmu saat sedang asyik memencet jerawat di keningku, kening yang serupa milikmu.
0 komentar:
Posting Komentar