Air Pagi
Minggu, 03 Juli 2011 | Kurniawati Jamaluddin
Pagi ini cerah
Tapi, ada kelabu di mata gadis itu
Ia memang sudah bersahabat dengan tangis sejak hari cerah kala itu
Tapi, bukan di pagi hari
Ketika seharusnya Ia membuka hari dengan senyum semangat
Ketika seharusnya Ia menebar kasih positif setidaknya untuk diri sendiri
Ia tak tahu jelas apa yang membuatnya begitu terkutuk pagi ini
Sehingga kembali harus menyapa air di sudut mata yang sudah sekian lama Ia biarkan tetap bernaung di tempatnya.
Ah, betapa tak enaknya menyapa hari dengan air mata. Ia bukan tak biasa membuka hari dan menemukan air di sana, tapi setidaknya bukan air di ujung matanya, tapi di ujung bibir tebalnya. Baru kali ini Ia merasa air liur ole-ole dari mimpi lebih mulia dari air mata ole-ole dari hati yang perih. Setidak-tidaknya air di ujung bibir hanya bersisa bau dan noda di bantal, sedangkan air di ujung mata?
Seharusnya dengan banyaknya air yang sudah tumpah lewat matamu, kau pasti sudah tau jelas apa yang bersisa dari air di ujung mata 'kan?
Sudahlah, bersahabatlah lagi dengan air di ujung mata itu hingga kau terbiasa dan tak ada lagi sakit di sana. Biarkan air itu menanggungnya, lalu membuangnya jauh darimu, gadis.
0 komentar:
Posting Komentar