Shalat?
Jumat, 24 Juni 2011 | Kurniawati Jamaluddin
Saya malas shalat. Dan jarang melakukannya. Sampai saya mengetik ini, saya tidak pernah mengerti mengapa saya harus shalat. Karena Tuhan sudah dan selalu memberiku segala yang kubutuhkan? Saya selalu bersyukur untuk itu semua. Apa itu kurang? Sebegitu gila hormatkah Tuhan? Oh ya ampun, saya minta maaf untuk kalimat yang terlalu lancang ini.
Saya jarang shalat, tentu, karena (sekali lagi) saya malas. Saya tidak punya alasan untuk shalat. Entah apa yang terjadi denganku, anggota keluargaku yang lain Alhamdulillah rajin shalat di mesjid. Saya? Jangan tanya lagi. Saya tidak ke mesjid kecuali bulan Ramadhan. Saya tau dan selalu berusaha untuk menghilangkan rasa malas terkutuk ini,tapi hasinya? Tidak ada harapan.
Beberapa kali saya berjanji dengan diri sendiri untuk kembali ke jalan-Nya dan jalan yang Ibuku hendaki, tapi baru beberapa hari saya menjalankannya, saya sudah kembali seperti dulu, gadis malas shalat. Kurang dengan berjanji pada diri sendiri, saya bahkan sudah mengucap sumpah melaksanakan shalat dhuhur di sekolah. Sumpah itu dikordinir oleh guru agamaku, awalnya, saya yakin bisa menjalankan sumpah itu sebaik-baiknya akan tetapi setelah saya datang bulan saya kembali tidak konsisten. Duh!
Suatu hari, saya berniat untuk mencoba shalat toh tak ada susahnya, pikirku. Waktu itu saya sedang ada kegiatan menginap di SMA 16 Makassar, saya pun melaksanakan shalat lima waku di mushallah SMA tersebut. Tapi ketika saya baru selesai shalat Isya, saya melihat kuku kaki saya mengilat tak biasa. Dan oh astaga! Saya ternyata belum menghapus kuteks bening yang saya pakai kemarin lalu. Setelah itu? Hasrat rajin shalatku, lenyap seketika!
Orang tuaku bukan satu dua kali menyuruhku shalat dengan iming-iming barang yang kuinginkan. Tapi hasilnya? Seperti yang dulu-dulu, hanya berhasil di awalnya saja.
Ibuku selalu membentak bahkan meneriaki menyuruhku shalat, kalau sudah begitu saya akan masuk ke kamar lalu memasang earphone di telinga. Ya, saya anak yang kurang ajar.
Saya ingin juga seperti kakak adikku yang lain, yang tak perlu diteriaki untuk pergi shalat, yang tidak perlu bersembunyi di kamar setiap jam shalat, saya juga ingin. Ingin sekali.
Tuhan, Kau tau itu ‘kan?
Saya hanya tidak punya alasan untuk memujamu dengan cara itu, maksudku, shalat.
Mohon maafkan hambamu ini.
0 komentar:
Posting Komentar