Kematian Ibunya.
Rabu, 06 Oktober 2010 | Kurniawati Jamaluddin
Innalilillahi Wa Inna Ilaihi Raaji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah ibunda dari saudara kita A. Rifqiawanto Marzuki.
Turut berduka cita, ya Kacoa'!
Masih ingat ketika kamu bilang bahwa kau tidak diberi kado apapun oleh orang tuamu di hari spesialmu itu? Ya, kau mengatakan itu tepat di hari ulang tahunmu 3 hari yang lalu. Dan sekarang? Kau melihat bungkusan putih besar seperti permen, tepat di depanmu. Itu kadomu? Mungkin bukan, karena itu tubuh ibumu yang tidak lagi mendapat jatah nafas dari Tuhan.
Oh! Rasanya pasti berat sekali menerima ini semua. Ketika jenazah ibumu menjadi kado pahit di usiamu yang ke-17 ini. Atau mungkin saja ini adalah ujian untukmu yang kelak bisa menjadikanmu lebih tabah dan mandiri. Amin.
Tadi, saya melihatmu tenang-tenang saja.
Tapi, meskipun wajahmu penuh senyum, apa itu berarti hatimu tidak meringis?
Aku tau kau jagoan, anak nakal, dan tidak cengeng tentunya. Tapi, demi tuhan, tidak akan ada orang yang menertawaimu bilapun kau menangis tersedu-sedu menghadapi ini semua. Karena, ya, ini pasti berat.
Menangislah. Meskipun tetesan air matamu itu tidak akan bisa membangunkan ibumu kembali, tapi setidaknya air itu bisa menampung bebanmu yang tersekat di mata.
***
Dulu, saya selalu berpikir, kematian itu adalah hal yang jauh dari saya dan orang terdekatku. Tapi ketika setahun lalu nenekku dipanggil, saya berpikir dua kali untuk itu.
Siapa yang akan tau kalau setelah memposting tulisan ini, deruan tangis di rumahku memecah melihatku menutup mata untuk selamanya?
Tags: benderaputih, curhat alalabumbum, mencoba bijak | 0 komentar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar