Fajri Senop
Sabtu, 09 Oktober 2010 | Kurniawati Jamaluddin
Sudah lama saya mau bercerita tentang seseorang. Seseorang yang tiga tahun belakangan ini wara-wiri di kehidupanku. Seseorang yang cukup banyak membawa pengaruh dalam setiap jalur hidup yang kupilih. Seseorang itu bernama Fajri Senop. Pelatih teaterku yang nyentrik dan amat sangat kubanggakan.
Dari SUNRISE, saya mulai mengenal dia dan dari SUNRISE pulalah dia mengenal saya hingga akhirnya kami layaknya kakak adik. Sosok yang sangat unik, setidaknya menurut sebagian orang yang mengenalnya. Seorang pemain teater handal yang anti-negara, tidak percaya Tuhan, dan individu bebas. Dengan segala sikapnya yang begitu antipati pada semua sistem yang ada, Ia menjadi sosok yang amat sangat bijaksana, cerdas, dan konsisten.
Dia seorang pelatih teater yang tidak terlalu suka disebut 'pelatih', Ia selalu berkata, "Kelebihan saya hanyalah lahir lebih cepat dari kalian". Dia pelatih yang amat tulus, dia tidak pernah menuntut gaji dari semua ilmunya, sekalipun diberikan gaji itu akan dipakainya menraktir kami semua.

Lebih jauh, dia bercita-cita membangun sekolah yang tidak memperjual-belikan pendidikan, sekolah yang tidak seperti sekolah pada umumnya, tanpa gedung atau segala yang memakan banyak biaya. Dia juga bercita-cita menghancurkan negara, menghancurkan semua sistem yang membuat manusia layaknya robot dengan nyawa.
Dulunya dia adalah seorang aktivis yang mulutnya selalu membuat telinga para petinggi dan babi-babi coklat [begitu kak Fajri menyebut polisi] panas. Seorang orator yang terkenal dengan kata-kata pedas. Sampai pada akhirnya, Ia memilih untuk membantu para buruh yang tertindas, Ia pergi kemana Ia mendengar penindasan terjadi. Dan dia akan menjadi orang yang paling di depan membela para rakyat kecil.
Untuk semua perjuangan yang telah dilakukannya, saya mengacungkan semua jempolku. Saya mengagumi kak Fajri. Dengan sangat.
Untuk semua pengorbanan yang telah dilakukannya, saya memberikannya tempat yang amat lapang di Jiwaku. Bersama jiwa-jiwanya yang lain.
Terima Kasih, Fajri Senop.
0 komentar:
Posting Komentar