Gowa Memilih
Rabu, 23 Juni 2010 | Kurniawati Jamaluddin
Hari ini tanggal 23 Juni 2010, di daerah saya lagi dilaksanakan PILKADA. Nah, ada empat kubu yang bertarung di PILKADA tahun ini, yaitu :
1. Ahmad Pidris Zain dan Abdul Ravy Rasyid
2. Andi Maddusila Idjo dan Jamaluddin Rustam
3. Andi Mappaturung dan Burhanuddin Matakko
4. Ichsan Yasin Limpo dan Abdul Razak Badjidu
***
Kemarin malam, di kompleks saya ada acara kampanye berkedok 'dzikir bersama' yang diselenggarakan oleh pasangan calon bupati dan wakil bupati nomor urut 4. Orang rumah pada gak datang, ngapain juga datang, acaranya sih bagus tapi niat si empunya acara udah lain, gimana mau rido'? Huh.
Sebelum acara 'dzikir bersama' dilaksanakan di kompleks saya, sudah dilaksanakan 'dzikir bersama' yang lebih besar di Mesjid Syekh Yusuf -Mesjid paling tenar di daerah Gowa-. Waktu itu saya sempat satu pete'-pete' dengan ibu-ibu yang baru saja pulang dari acara 'dzikir bersama' itu, di tangan mereka ada sebuah kertas berisi ayat-ayat Allah yang disandingkan dengan sebuah foto dua orang bapak berdasi sambil tersenyum, ya, itu foto pasangan Ichsan Yasin Limpo dan Abdul Razak Badjidu. Oh ya, ada juga amplop yang berisi beberapa lembar uang sepuluh ribuan.
Kalau dipikir-pikir, kok mereka mau aja yah suara mereka dibeli dengan beberapa lembar uang gituan? Kalau si cabup dan cawabup itu terpilih dan ternyata malah pemerintahannya bobrok, bukannya mereka-mereka juga yang rugi? Tapi tiba-tiba,
"Ambil uangnya, jangan pilih orangnya..." seru ibu-ibu gendut di sampingku sambil memperbaiki letak jilbabnya.
"Iya bu, bahaya kalau yang beginian dipilih, bukannya sibuk urusi rakyat tapi sibuk memikirkan bagaimana supaya uang kampanyenya kembali" balas ibu-ibu lain.
Saya tersenyum mendengarnya. Wah, licik juga nih ibu-ibu ckckckck :D
***
Nyokap menutup pintu rumah setelah bu Rias pergi. Nyokap menenteng kantung kresek hitam yang berisi jilbab putih dengan sablonan angka 4 dan nama Ichsan Yasin Limpo dan Abdul Razak Badjidu di sisinya serta bedak Mirabella Chic. Ah, ternyata bapak-bapak berdasi itu juga ingin membeli suara keluarga saya. Konyol.
Kami hanya menertawai bingkisan yang nyokap dan bokap sebut dengan 'serangan fajar' itu. Sungguh perbuatan sia-sia menghabiskan uang untuk jabatan palsu yang sangat tidak terhormat. Cuih!
***
Ribuan suara menanti langkahmu
Jangan keliru,
Kami menaruh kepercayaan ini untukmu,
Untuk kau ubah menjadi sebuah kemakmuran
Untuk kau ubah menjadi sebuah kesejahteraan
Jangan keliru,
Kami mencintaimu
Kami mencintai daerah ini
Bukankah kau juga demikian?
-------------------------------------------------------------------------------------
Marilah kita memilih pemimpin yang jujur, arif dan bijaksana, tidak penuh dengan gaya hura-hura. Janganlah memilih pemimpin yang selalu penuh dengan kebohongan, sombong, arogan, dan otoriter serta sering memakai cara premanisme dalam mengambil suatu tindakan. Pilihlah yang punya rasa SIRI’ NA PACCE kepada diri dan masyarakat GOWA.
0 komentar:
Posting Komentar