Tak Apa
Kamis, 11 Juni 2015 | Kurniawati Jamaluddin
Malam sebelum aku mendapati sesuatu yang telah susah payah kausembunyikan,
aku membaca beberapa puisi tentang patah hati
dan merekam suaraku dengan backsound yang juga kudapat dari memori ponselmu yang lawas; tapi aku tak ingin menyebutnya sebagai pertanda.
Sebab meski hal ini adalah pertanda,
aku tak akan mencegah kau:
mematahkan aku.
***
Aku takhendak membuktikan apa-apa padamu, sungguh.
Aku takpunya cukup tenaga dan waktu
untuk hal yang tak akan membuktikan apa-apa itu.
Separuh dari seluruhku telah terberangus oleh hubungan ini, bila kaumau tau;
oleh cinta yang tak kunyana akan diakhiri seperti ini.
Bahwa cintaku belum benar-benar hilang, kaudapat memastikan itu.
Aku bahkan merasa begitu sangat mencintaimu di saat-saat seperti ini: air yang menggenang di kelopak mataku yang memberitahukannya.
Seperti yang kukatakan padamu, pada patahku yang ke sekian ini
kubiarkan semuanya berjalan biasa saja.
Ya, langkahku akan terseok, pandanganku akan memburam,
tapi,
seperti kataku di patahku yang entah
aku pernah berjalan dengan riang dan mata yang berbinar-binar : tanpa papahanmu;
tentu setelah ini aku juga bisa -ya, mungkin dengan tertatih.
Itu, tak apa. Sungguh.
0 komentar:
Posting Komentar