Mengecap Kecupan
Minggu, 22 Mei 2011 | Kurniawati Jamaluddin
Ada kisah miris di balik kisah fantastis di malam 21. Dan lebih miris ketika hanya saya yang mengalaminya. Dan lebih miris lagi ketika saya tak tau di mana saya bisa menumpahkannya. Dan pada akhirnya, kisah miris itu berakhir dengan tangis yang tertahan.
***
Mulo Hall, May 21th 2011 at 11:32pm
Saya tertawa menutup luka itu. Melihat mereka dengan ibunya sambil tersenyum bahagia. Saya tersenyum pilu. Entah kapan saya bisa mengecap rasa bahagia seperti mereka, yang dengan bangga mengecup ibunya ketika kakinya turun dari panggung, yang merasakan pentasnya ditonton oleh ibunya, yang...
Saya juga ingiiin sekali mengecap kecupan seusai pementasan, bukan kecupan air di ujung mata yang tanpa izin mengecup pipi. Bila tak ada kecupan, sekedar mata berbinar bangga saja sudah cukup!
0 komentar:
Posting Komentar