Mamiri di Minggu Pagi
Sabtu, 24 April 2010 | Kurniawati Jamaluddin
Setelah begadang semalaman dengan ditemani hape, cheetos rasa BBQ ukuran jumbo, dan alunan musik 'The Hardest Thing'-nya 98 Degrees entah kenapa pagi saya ini bisa bangun cepat. Aneh. Padahal hari minggu yang lalu-lalu paling anter saya bangun jam 2 siang. Mama saya sendiri dibuat kaget,
Mama : Laparko? [dengan wajah superheran nan khawatir]
Saya : Ndakji
Mama : Kenapa pade` cepatko bangun? [semakin khawatir, alis bertaut]
Saya : Ih apa itu kita Mak, kalo lamaki bangun marah-marah terus, kalo cepatki bangun heranki ckck
Mama : Ededeh, pasti mauko pergi toh?
Saya : Ndak deh, ih sottaknya [berlalu meninggalkan si mama yang masih keheranan]
Setelah percakapan itu, saya lari ke kamar mandi sikat gigi terus cuci muka tanpa mandi hahahaha. Pagi yang indah. Sejuk, menenangkan. Saya lalu ke balkon membuka pintu, angin sepoi-sepoi kota daengku memang sungguh asooy. Membelai wajah kusamku dengan lembut, hooaammhh serasa mau tidur lagi. Mata saya menerawang liar, pikiranku juga kubiarkan terbang bebas sebebas burung kecil berwarna agak kecoklatan yang hinggap di seng yang karatan itu.
Lalu, mataku tertuju pada satu objek. Seorang Ibu berperawakan agak gemuk, dengan kulit hitam, rambut keriting, dengan memakai kaos putih kelonggaran dan celana seperempat lutut yang juga kebesaran. Tangannya menenteng karung berwarna putih. Ia singgah di tong sampah dekat rumah, mencari sesuatu sepertinya gelas-gelas plastik, dia jalan lagi menyeret kakinya yang dilindungi sendal swallow berwarna ungu-putih. Ibu itu terus berjalan, mengambil setiap gelas plastik yang berserakan, ia terus berjalan sampai tak terjangkau lagi oleh mataku. Angin mamiri membelaiku lagi. Ah!
Selamat pagi, Quruw!
0 komentar:
Posting Komentar